Lanjutan kisah Mei
cerbung..
Pagi Part 2
Pagi Part 2
Dan setiap perjalanan bukan dianjurkan untuk terus berjalan. Ada kalanya untuk beristirahat. Melihat seisi sekitar. Untuk menikmati dan menghilangkan rasa penat. Setelahnya kembali berjalan hingga tiba tujuan. Bukan tergiyur oleh pemandangan ketika dipinggir jalan. Dan tinggal dipinggiran.
"Pasti belum bangun" Tomi yang sedang duduk di depan teras rumahnya menggurutu dengan sendirinya.
"Siapa Tom?" Seorang laki-laki dengan pakaian rapi keluar dari dalam rumah Tomi.
"Itu, si Mei. Pengennya sukses tapi gak ada usahanya sama sekali" Kata Tomi sedikit kesal.
"Mei siapa? Temenmu?" Tanya laki-laki itu.
"Mei, sebelah rumah mas. Masak mas ndak tau" Tomi sedikit jengkel dan pergi ke dalam rumah.
"Bu, aku akan ke rumah Tomi" teriakku di depan rumah sambil menaiki sepeda.
"Iya, hati-hati. Jangan pulang terlalu sore." Suara ibu juga terdengar keras. Sedikit teriak juga hehe. Lagi di taman siram bunga.
Aku kayuh sepeda dengan perlahan. Kenapa Tomi mencari aku pagi-pagi buta gini. Dan tidak seperti biasanya Ibu di rumah. Dan tidak biasanya juga aku sudah mandi sepagi ini. Hmm. Jalan kecil yang aku lalui ke rumah Tomi dikelilingi ilalang disetiap pinggir jalan. Dan ada sungai kecil di sebelah kiri jalan. Untuk ke rumah Tomi yang sedikit jauh. Sebenarnya ada jalan yang lumayan dekat. Tapi aku lebih suka melewati jalan ini. Sambil menikmati udara pagi.
Di depan ada sebuah pertigaan untuk ke rumah Tomi. Aku belok ke arah kanan. Banyak sekali rumah kiri dan kanan jalan. Rumah Tomi berada di kanan jalan. Dengan pagar warna hitam depan halaman terdapat pohon mangga yang teramat rindang.
Ya, tepat sekali di depan rumah tomi. Aku melihat seorang laki-laki mengenakan sepatu.
"Siapa gadis itu?" Gumam Rafa. Rafa adalah kakak keponakan Tomi yang tinggal di rumah Tomi. Sedang masa-masa Kuliah Kerja Nyata atau KKN.
"Permisi?" Di depan gerbang aku menunggu Tomi. Dan laki-laki itu membukakannya.
"Siapa? temennya Tomi?" tanya laki-laki itu.
"Iya mas, Tominya ada?" Tanya ku balik sambil clingak-clinguk mencari Tomi.
"Ada di dalam. Silahkan masuk" Aku langsung masuk ke ke halaman rumah Tomi. Waah, pohon mangganya sedang berbuah. Jangan-jangan si Tomi mau ngajak panen mangga nih.Tau aja si Tomi kalau aku suka mangga hihihi.
"Eh, udah bangun Mei?" Suara Tomi sedikit mengagetkanku.
"Sini masuk" Ajaka Tomi masuk ke rumahnya.
Sambil senyum-senyum sendiri aku ikut masuk ke dalam rumah Tomi.
"Tadi aku ke rumah kamu, eh kamu masih tidur katanya" kata Tomi padaku.
"Jadi kapan nih?" Tanya ku penasaran kapan buat memanjat pohon mangganya.
"Ya sabar dong Mei" Kata Tomi.
"Cepetan dong Tom. Aku sudah pengen segera manjat nih" Kata ku tidak sabar. Tiba-tiba laki-laki yang tadi lewat depan ruangan yang aku tempati dengan Tomi.
"Manjat apa?" Tanyanya.
"Tau tuh si Mei. Mau manjat apaan coba" Heii, dieeng!! -_-
Aku malah gak ngerti yang mereka omongin.
"Lah terus, aku kesini untuk apa Tom?" tanyaku
"Oh, jadi gini. Kemaren pakde ku kesini. Pakde nawarin aku kerja" Tomi menjelaskan. Terus kenapa juga Tomi harus bilang ke aku ya. Mungkin dia mau nawarin aku.
"Ya kamu terima aja Tom". Kataku
"Pakde aku nyarinya yang cewe Mei. Terus aku ke inget sama kamu" Ah, jadi bingung.
"Daripada kamu di rumah terus. Kan kerja enak Mei, bisa dapat uang sendiri. Ya kalo bisa bantu ibu kamu" Tomi menjelaskan, aku diam.
"Gimana? Tapi nanti kerjanya di perusahaan Pakde aku. Di Jogja. Kerjanya sih belum faham aku Mei. Tapi untuk gajinya ya lumayan. Kalaupun kamu mau, nanti aku bisa langsung hubungi pakde aku." Jelas. Tapi apa kerjanya?. Aku belum tau, harus di Jogja. Jadi jauh sama Ibu. Tapi perkataan Tomi ada benarnya juga. Daripada aku nganggur di rumah. Tapi, nanti ibu di rumah dengan siapa. Tambah bingung.
"Bagaimana nak Mei?" Suara ibu Tomi yang barusan keluar dari belakang. Sepertinya dari dapur. Kemudian duduk di sebelahku.
"Nanti masalah Ibumu. Tidak perlu kuatir. Biar sesekali aku yang menengoknya." Ah, semacam aku mau pergi kemana saja. Belum juga aku memastikan iya atau tidak. Sudah seperti mau pergi jauh saja diriku. Hmm.
"Maaf, nanti biar saya bicarakan sama Ibu dulu. Bagaimana pendapatnya." Jawabku. Aku harus bertanya pada Ibu.
"Baik, saya akan segera pulang. Terima kasih Tom atas informasi dan tawarannya." Aku berdiri, aku hendak melangkah pulang. Hatiku sedang dipenuhi rasa kekacauan. Mungkin hanya hal sepele. Tapi, bila dipikir lagi, Ibu akan sendiri di rumah.
"Makan dulu ayo nak Mei" Ajak Ibu Tomi. Tidak, aku tidak selera.
"Tidak usah Bi, nanti saja di rumah" Aku mencoba menolaknya.
"Eh Mei, bukannya kamu menginginkan buah mangga?"kata Tomi.
"Ah, tidak usah Tom. Aku lagi tidak selera untuk memanjat. Aku pulang saja." Kataku sambil berjalan. Tiba di depan pintu, Ibu Tomi membawa mangga satu kantung plastik warna hitam.
"Tidak perlu memanjat. Bibi sudah ada yang masak. Ini ambil" Aku clingukan. Mau sih, tapi.
"Sudah ambil saja Mei" Kata Tomi lagi.
"Baik. Terima kasih" Aku ambil dengan senyum melebar.
"Saya pamit dulu ya bi"
"Tom, terima kasih ya"
"Iya sama-sama"
Ku taruh kantung plastik di depan anting sepedaku. Kemudian aku naik dan ku kayuh perlahan. Sambil ku lambaikan tanganku ke mereka. Semoga, tawarannya menjadi suksesku ke depannya. Walaupun entah, harus seperti apa. Aku masih ingin belajar.
Di depan ada sebuah pertigaan untuk ke rumah Tomi. Aku belok ke arah kanan. Banyak sekali rumah kiri dan kanan jalan. Rumah Tomi berada di kanan jalan. Dengan pagar warna hitam depan halaman terdapat pohon mangga yang teramat rindang.
Ya, tepat sekali di depan rumah tomi. Aku melihat seorang laki-laki mengenakan sepatu.
"Siapa gadis itu?" Gumam Rafa. Rafa adalah kakak keponakan Tomi yang tinggal di rumah Tomi. Sedang masa-masa Kuliah Kerja Nyata atau KKN.
"Permisi?" Di depan gerbang aku menunggu Tomi. Dan laki-laki itu membukakannya.
"Siapa? temennya Tomi?" tanya laki-laki itu.
"Iya mas, Tominya ada?" Tanya ku balik sambil clingak-clinguk mencari Tomi.
"Ada di dalam. Silahkan masuk" Aku langsung masuk ke ke halaman rumah Tomi. Waah, pohon mangganya sedang berbuah. Jangan-jangan si Tomi mau ngajak panen mangga nih.Tau aja si Tomi kalau aku suka mangga hihihi.
"Eh, udah bangun Mei?" Suara Tomi sedikit mengagetkanku.
"Sini masuk" Ajaka Tomi masuk ke rumahnya.
Sambil senyum-senyum sendiri aku ikut masuk ke dalam rumah Tomi.
"Tadi aku ke rumah kamu, eh kamu masih tidur katanya" kata Tomi padaku.
"Jadi kapan nih?" Tanya ku penasaran kapan buat memanjat pohon mangganya.
"Ya sabar dong Mei" Kata Tomi.
"Cepetan dong Tom. Aku sudah pengen segera manjat nih" Kata ku tidak sabar. Tiba-tiba laki-laki yang tadi lewat depan ruangan yang aku tempati dengan Tomi.
"Manjat apa?" Tanyanya.
"Tau tuh si Mei. Mau manjat apaan coba" Heii, dieeng!! -_-
Aku malah gak ngerti yang mereka omongin.
"Lah terus, aku kesini untuk apa Tom?" tanyaku
"Oh, jadi gini. Kemaren pakde ku kesini. Pakde nawarin aku kerja" Tomi menjelaskan. Terus kenapa juga Tomi harus bilang ke aku ya. Mungkin dia mau nawarin aku.
"Ya kamu terima aja Tom". Kataku
"Pakde aku nyarinya yang cewe Mei. Terus aku ke inget sama kamu" Ah, jadi bingung.
"Daripada kamu di rumah terus. Kan kerja enak Mei, bisa dapat uang sendiri. Ya kalo bisa bantu ibu kamu" Tomi menjelaskan, aku diam.
"Gimana? Tapi nanti kerjanya di perusahaan Pakde aku. Di Jogja. Kerjanya sih belum faham aku Mei. Tapi untuk gajinya ya lumayan. Kalaupun kamu mau, nanti aku bisa langsung hubungi pakde aku." Jelas. Tapi apa kerjanya?. Aku belum tau, harus di Jogja. Jadi jauh sama Ibu. Tapi perkataan Tomi ada benarnya juga. Daripada aku nganggur di rumah. Tapi, nanti ibu di rumah dengan siapa. Tambah bingung.
"Bagaimana nak Mei?" Suara ibu Tomi yang barusan keluar dari belakang. Sepertinya dari dapur. Kemudian duduk di sebelahku.
"Nanti masalah Ibumu. Tidak perlu kuatir. Biar sesekali aku yang menengoknya." Ah, semacam aku mau pergi kemana saja. Belum juga aku memastikan iya atau tidak. Sudah seperti mau pergi jauh saja diriku. Hmm.
"Maaf, nanti biar saya bicarakan sama Ibu dulu. Bagaimana pendapatnya." Jawabku. Aku harus bertanya pada Ibu.
"Baik, saya akan segera pulang. Terima kasih Tom atas informasi dan tawarannya." Aku berdiri, aku hendak melangkah pulang. Hatiku sedang dipenuhi rasa kekacauan. Mungkin hanya hal sepele. Tapi, bila dipikir lagi, Ibu akan sendiri di rumah.
"Makan dulu ayo nak Mei" Ajak Ibu Tomi. Tidak, aku tidak selera.
"Tidak usah Bi, nanti saja di rumah" Aku mencoba menolaknya.
"Eh Mei, bukannya kamu menginginkan buah mangga?"kata Tomi.
"Ah, tidak usah Tom. Aku lagi tidak selera untuk memanjat. Aku pulang saja." Kataku sambil berjalan. Tiba di depan pintu, Ibu Tomi membawa mangga satu kantung plastik warna hitam.
"Tidak perlu memanjat. Bibi sudah ada yang masak. Ini ambil" Aku clingukan. Mau sih, tapi.
"Sudah ambil saja Mei" Kata Tomi lagi.
"Baik. Terima kasih" Aku ambil dengan senyum melebar.
"Saya pamit dulu ya bi"
"Tom, terima kasih ya"
"Iya sama-sama"
Ku taruh kantung plastik di depan anting sepedaku. Kemudian aku naik dan ku kayuh perlahan. Sambil ku lambaikan tanganku ke mereka. Semoga, tawarannya menjadi suksesku ke depannya. Walaupun entah, harus seperti apa. Aku masih ingin belajar.
~Bersambung...
Terima kasih sahabat kata telah membaca cerita ku hari ini, kelanjutan dari kisah Mei akan di lanjut pada blog selanjutnya.
Hanya sekedar berbagi kata
Selamat beraktivitas. :)

Komentar
Posting Komentar